×

Daftar Boikot Minuman Kemasan: Coca-Cola

Gerakan boikot terhadap merek global seperti Coca-Cola mencuat sebagai bentuk tekanan moral atas dugaan keterlibatan korporasi dalam krisis kemanusiaan di Gaza. Artikel ini mengulas identitas produk yang terdampak, alasan etis di balik boikot, serta memberikan daftar alternatif produk lokal Indonesia yang dapat dipilih masyarakat. Selain bersikap lewat konsumsi, pembaca juga diajak berkontribusi nyata melalui pembangunan RSIA Indonesia di Gaza.

Dokumentasi | Maemuna Webinar Series Volume 2

Literasi tentang Al-Aqsha adalah tanggung jawab yang bermula dari rumah. Melalui Webinar Maemuna Series Volume 2, para ibu diajak untuk memahami bahwa perjuangan membela Palestina tidak hanya terjadi di medan konflik, melainkan juga melalui pendidikan akhlak dan sejarah sejak dini. Menghadirkan perspektif dari Duta Al-Quds dan praktisi parenting, acara ini menjadi ruang penguatan bagi para ibu untuk mencetak generasi yang memiliki keberpihakan nyata pada keadilan.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat Indonesia untuk Gaza dan Pembebasan Al-Aqsa?

Perjuangan untuk Gaza dan pembebasan Masjid Al-Aqsa adalah jalan panjang yang menuntut lebih dari sekadar empati sesaat. Maemuna Center menekankan pentingnya mengubah perasaan menjadi aksi nyata yang istiqamah. Melalui penguatan doa, donasi berkelanjutan untuk RSIA Indonesia, literasi sejarah yang benar, serta keberanian bersikap di ruang publik, kita memastikan bahwa dukungan untuk Palestina tetap menyala meski tanpa sorotan kamera.

2025 di Gaza: Tahun Duka, Kelaparan, dan Penantian Akan Harapan

Tahun 2025 tercatat sebagai salah satu periode paling getir dalam sejarah Jalur Gaza, ditandai dengan hancurnya infrastruktur vital dan krisis pangan yang merenggut rasa aman warga sipil. Di tengah puing-puing kehancuran, lahir seruan kemanusiaan agar dunia tidak berpaling. Palestina bukanlah isu musiman; ia adalah amanah yang menuntut aksi nyata kita semua, terutama dalam memastikan layanan kesehatan bagi ibu dan anak melalui RSIA Indonesia tetap tegak berdiri.

Gaza Beri Penghargaan kepada 500 Penghafal Al-Qur’an di Tengah Perang

Meskipun hidup dalam keterbatasan di kamp pengungsian Al-Shati, 500 anak dan remaja Gaza membuktikan bahwa cahaya Al-Qur'an tidak dapat dipadamkan oleh perang. Melalui acara penghargaan yang penuh haru, para hafiz ini menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa di tengah reruntuhan. Keberhasilan mereka menghafal ayat suci di tengah tekanan psikologis menjadi simbol harapan dan identitas yang tetap hidup bagi masa depan Palestina.

Menikah di Bawah Genosida: Gaun Pengantin Palestina Berlukur Darah

Setelah tertunda setahun akibat perang, Mustafa dan Nesma akhirnya menggelar pernikahan sederhana di sebuah tenda di Gaza City. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap sebelum ledakan artileri menghancurkan tempat tinggal masa depan mereka dan merenggut nyawa orang-orang tercinta. Mustafa yang seharusnya menjadi pengantin, seketika berubah menjadi relawan penyelamat di hari pernikahannya sendiri, meninggalkan luka mendalam bagi kemanusiaan.